Sabtu, 31 Januari 2015

Mari Bergandengan Tangan Sukseskan Porprov di Batang Hari





ADA satu kebanggaan yang tidak ternilai harganya saat dipercaya menjadi koordinator dan ketua pelaksana sayembara maskot dan logo Porprov Jambi XXI, dimana untuk pertamakalinya Kabupaten Batang Hari ditunjuk menjadi tuan rumah pekan olahraga tingkat Provinsi Jambi pada tahun 2015. Kesempatan langka seperti itu entah kapan lagi datangnya.

Untuk diketahui, lomba sayembara maskot dan logo Porprov Jambi XXI dibuka pada tahun 2014 lalu diikuti 95 desain yang terdiri 43 desain maskot dan 52 desain logo yang dikirim 44 peserta dari sembilan provinsi di Indonesia yaitu, Jambi, Sumatera Barat, Kepulauan Riau, Banten, Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jogyakarta, Jawa Timur. Untuk wilayah Provinsi Jambi sendiri diikuti peserta dari Kota Jambi, Batang Hari, Bungo, Muarojambi, Tanjung Jabung Barat, Tanjung Jabung Timur.

Lebih lengkapnya 44 peserta sayembara maskot dan logo PORPROV Jambi XXI/2015 adalah Tommy Harry Pandiangan (Kota Jambi), Muhammad Hanif(Kota Jambi, Edi Dharma (Kota Jambi), Wahyu Awal Yuliandi (Kota Jambi), Ahmad Nusyirwan(Tanjab Barat), Hilman (Kota Jambi), Lili Adhi Sutikno (Kota Jambi), Ruliyanto(Kota Jambi), Ella Kurniawati(Batang Hari), Syahril (Kota Jambi), Amri Wijayanto (Kota Jambi).

Kemudian, Danil Rangga Prihandana (Batang Hari), Nurhasan Alvar(Batang Hari), Rian Ariyanto (Batang Hari), Ahmad Albarkati(Batang Hari), Singgih Darmawan(Batang Hari), Sujatmiko (Kota Jambi), Riyanto(Batang Hari), Deaddy Febrizal (Batang Hari), Puji Harjana(Batang Hari), Angga Wira Setiawan(Muarojambi), Khoirudin(kota Jambi), Ahmad Nasuha(Bungo), Deni Abdul Aqila(Batang Hari), Adi Hariyanto(Batang Hari), Yusuf (Tanjab Timur), Arif Setiawan(Batang Hari), Riko Mappadeceng(Kota Jambi), Iman Syaeful Setiawan(Jawa Barat), Us-us Syarif Usman(Jawa Barat), Samsul Rahman Syahrofi (Jawa Barat), Pardiyanto(Jakarta), Anto Wibowo(Jakarta), Syahrial Suryandana (Jawa Timur), Hero Mega Surya (Jawa Timur).

Selanjutnya, Abdillah Danardana(Jogyakarta), Fajar Anggi Jatmiko(Jogyakarta), Surharyanto(Jogyakarta), Agus Istianto(Jogyakarta), Zikri (Sumatera Barat), Situart Kuswantoro(Jawa Tengah), Bintaro Setiawan(Jawa Tengah), Abub Luthfi Halim (Banten) dan Ganjar Witriana (Kepulauan Riau).

Sementara dewan juri sayembara maskot dan logo Porprov Jambi XXI terdiri ; Drs. H. Ali Redo (Ketua/Sekda Batang Hari), Ir. Amir Hasbi, ME (anggota/Kepala Bappeda Batang Hari), H. Ardian Faisal, SE, ME (anggota/Kepala Disporapar Batang Hari), M. Rizal (anggota/Kepala Disperindagkop Batang Hari), H. Fathuddin Abdi (anggota/Ketua Lembaga Adat Batang Hari), Drs. Hadra Minnida (anggota/Kadis P dan K Batang Hari) dan H. Arzanil (anggota/Ketua KONI  Kab. Batang Hari).

Melihat jadwal penyelenggaraan sayembara maskot dan logo Porprov Jambi XXI sejak dibuka 30 April – 25 Juni 2014, baik panitia dan dewan juri harus melaksanakan tahapan yang telah disepakati. Setelah melalui proses ketat akhirnya menetapkan pemenang maskot dan logo porprov dimana Syahrial Suryandana asal Kota Surabaya, Provinsi Jawa Timur memenangi sayembara desain logo Porprov, sementara desain maskot diraih Edi Dharma asal Kota Jambi, Jambi. Atas keberhasilan itu, baik Syahrial Suryandana dan Edi Dharma berhak atas hadiah yang telah disiapkan panitia, begitupun dengan hasil karya kedua desainer tersebut telah diserahkan sepenuhnya kepada KONI Kabupaten Batang Hari.

Dalam berita acara serahterima dari pemenang desain maskot dan logo Porprov XXI pada tanggal 12 Agustus 2014 lalu kepada KONI Kabupaten Batang Hari, tertuang 13 poin kesepakatan yang ditandatangani Syahrial Suryandana, Edi Dharma dan Ketua KONI Kabupaten Batang Hari H. Arzanil yang dihadiri dan disaksikan langsung Bupati Batang Hari pada proses penandatanganan tersebut yang saat itu juga bertepatan dengan lounching TC atlit-atlit Kabupaten Batang Hari yang akan dipersiapkan pada Porprov.

Merunut dari berita acara tersebut, pada pasal 5 berbunyi : “Pihak pertama (Syahrial Suryandana dan Edi Dharma) selanjutnya menyerahkan karya asli dan hak cipta desain maskot PORPROV Jambi XXI/2015 beserta maknanya kepada pihak kedua (KONI Kabupaten Batang Hari),”. Kemudian pasal 11 berbunyi : “Pihak Kedua (KONI Kabupaten Batang Hari) memiliki kewenangan mutlak untuk menggunakan dan memperbanyak maskot tersebut untuk kepentingan komersial. Pihak Lain yang akan menggunakan logo itu untuk kepentingan komersil harus mendapat persetujuan tertulis dari pihak kedua (KONI Kabupaten Batang Hari),”.

Tugas saya sebagai panitia sayembara selesai, namun demikian saya secara pribadi  turut berbangga hati apabila hasil karya pemenang sayembara maskot dan logo tersebut ikut disebarluaskan kepada publik yang muaranya menyukseskan penyelenggaraan Porprov XXI/2015 di Kabupaten Batang Hari. Hanya saja dalam mensosialisasikannya tetap harus ada saling koordinasi satu sama lain, agar apa yang disosialisasikan itu tidak salah penyampaian dan salah persepsi di masyarakat. Kedepan, mari kita bangun komunikasi dan koordinasi yang lebih baik agar Porprov Jambi di Kabupaten Batang Hari bisa terselenggara dengan baik sesuai harapan semua elemen masyarakat di Provinsi Jambi.

Satu lagi yang tidak kalah pentingnya, adalah pelaksanaan Porprov 2015 sebagai ajang pesta olahraga terbesar di Provinsi Jambi barang tentu juga melibatkan sejumlah pihak, yakni Pemprov Jambi, Pemkab Batang Hari, KONI Provinsi Jambi dan KONI kabupaten/kota (termasuk KONI Batang Hari dan cabor) dan pihak-pihak ini juga tidak boleh mengesampingkan peran serta masyarakat. Mari saling bergandengan tangan menyukseskan Porprov di Batang Hari. Salam Olahraga...!!!. (M. ARIS, SH/mantan Ketua Panitia Pelaksana Sayembara Maskot dan Logo Porprov Jambi XXI/2015).






Selasa, 28 Oktober 2014

KNPI Batang Hari semarakan Hari Sumpah Pemuda 2014

KNPI Batang Hari bersama OKP, pelajar, dan sejumlah pihak dilingkungan Pemkab Batang Hari melaksanakan upacara Hari Sumpah Pemuda ke-86 pada tanggal 28 Oktober 2014 di Lapangan Garuda Muara Bulian, Batang Hari. Hadiri dalam upacara itu adalah Bupati Sinwan SH, unsur Forkompimda Batang Hari, SKPD, OKP, Ketua KNPI Batang Hari M. Faisal Reza ST dan jajarannya. Dalam upacara tersebut, bertindak sebagai inspektur upacara adalah Bupati, Perwira upacara M. Aris (sekretaris KNPI Batang Hari), pembacaan UUD 1945 dari unsur OKP, pembacaan teks sumpah pemuda dari OKP, komandan upacara dari OKP, pembacaan doa dari OKP. diharapkan hari sumpah pemuda tahun 2014, KNPI Batang Hari akan mampu memberikan warna tersendiri dalam partisipasinya pada proses pembangunan di Kabupaten Batang Hari.


Sabtu, 27 September 2014

KPU Daerah Diamputasi, Melawan atau Pasrah



oleh:
Muhammad Aris, SH

RUU Pilkada yang disahkan DPR RI pada rapat paripurna 25 September 2014 lalu mengukir sejarah baru dengan dikembalikannya pemilihan kepala daerah (gubernur, bupati dan walikota) ke parlemen (DPRD). Akibatnya, pemilihan melalui DPRD itu mengakibatkan efek yang meluas terutama kewenangan dan keberadaan KPU Provinsi dan KPU kabupaten/kota yang tersebar di 34 Provinsi dan 511 kabupaten/kota bakal ‘Diamputasi’ dengan dicabutnya UU No. 15 tahun 2011 tentang penyelenggara pemilu.
Bila melihat Pasal 5 ayat 2 UU No. 15 tahun 2011 yang berbunyi : “KPU, KPU provinsi, KPU kabupaten/kota bersifat tetap”, namun dengan dicabutnya Undang-undang penyelenggara pemilu tersebut, maka serta merta khususnya penyelenggara pemilu di daerah tidak lagi bersifat tetap, tapi akan dikembalikan pada sifat adhock(sementara). Sementara KPU RI tetap menjadi lembaga tetap karena didukung pasal 22E ayat 3 UUD 1945. Para komisioner KPU Provinsi dan KPU kabupaten/kota akan dipilih kembali menjelang momen pileg dan pilpres yang serentak dilakukan 2019. Meski dihapusnya UU No. 15 tahun 2011 itu, tapi dasar hukum untuk melaksanakan pileg dan pilpres itu masih ada, yakni Pasal 22E UUD 1945, UU No. 42 tahun 2008 tentang pemilihan presiden dan wakil presiden dan UU No. 08 tahun 2012 tentang pemilu anggota DPR, DPD dan DPRD.
Dimana pasal 22E ayat 3 UUD 1945 berbunyi : “Pemilihan umum diselenggarakan oleh suatu komisi pemilihan umum yang bersifat nasional, tetap dan mandiri”. Hanya disebut dalam UU itu adalah KPU RI, tidak termasuk KPU Provinsi dan KPU kabupaten/kota. Sementara KPU RI dalam UUD 1945 hanya diberikan kewenangan untuk melaksanakan pemilu DPR, DRD dan DPRD dan pemilu presiden dan wakil presiden. Dengan dikembalikan pilkada ke DPRD, maka kewenangan KPU Provinsi dan KPU kabupaten/kota terkuras habis, tidak ada lagi kegiatan yang bisa dilakukan bagi penyelenggara pemilu di daerah, terkecuali hanya menjadi ‘penonton’ semata.
Putusan politik DPR RI 25 September 2014 tersebut membuat sejumlah pihak tersentak, tidak terkecuali dengan penyelenggara pemilu di daerah baik yang aktif maupun purnabakti. Putusan itu tidak pernah terbayangkan dan menimbulkan ekses, namun sangat disayangkan penyelenggara pemilu (aktif) tidak semuanya melakukan perlawanan terhadap wacana pilkada dikembalikan ke daerah yang digulirkan sebelumnya, setelah RUU pilkada disahkan dan dikembalikan ke DPRD barulah muncul pemberontakan dan penolakan. Salah satu cara melakukan perlawanan adalah uji materi di MK.
Saya teringat dan angkat jempol dengan mantan anggota KPU Bogor Tugiman Al Garuty yang berani melakukan uji materi terhadap pasal 27 ayat 1 huruf b dan ayat 3 UU No. 15 tahun 2011. Keberanian Tugiman itu akhirnya membuahkan hasil, Mahkamah Konstitusipun secara bulat menerima seluruh permohonan pemohon berdasarkan putusan MK No. 80/PUU-XI/2011 tertanggal 4 Januari 2011. Namun sayangkan mas Tugiman yang berjuang kembali untuk masuk ke KPUD (KPU Jawa Barat dan KPU Bogor) tersingkir, setelah berjuang tanpa pamrih membela institusinya. Begitupun dengan sobat Ahmad Said Widodo (mantan anggota KPU Purwakarta) serta teman-teman lainnya memiliki kualitas dan integritas. Jadi, lembaga penyelenggara pemilu semestinya punya standar tinggi dalam proses rekrutmen dan evaluasi dalam proses seleksi, betul-betul mempertimbangkan karena kualitas dan integritas,. Pertanyaannya, adakah Tugiman-tugiman lain yang akan melakukan uji materi terhadap UU pilkada di MK?. Adakah yang berani atau hanya pasrah menerima kondisi ini. Hanya ada dua kata: “Lawan atau pasrah”.
Kepada komisioner yang masih aktif khususnya KPU Provinsi, KPU kabupaten/kota, jangan merasa sensitif atas tulisan saya ini, saya tidak ingin memojokkan lembaga pemilu, penyebabnya adalah keputusan politik DPR RI dengan disahkan RUU pilkada.
Pasca pengesehan RUU pilkada...kita tunggu aktion KPU RI selanjutnya?

Minggu, 21 September 2014

Kabar Batang Hari: Kasus DPR, Kenapa KPK Hanya Fokus di Pusat?

Kabar Batang Hari: Kasus DPR, Kenapa KPK Hanya Fokus di Pusat?

Kasus DPR, Kenapa KPK Hanya Fokus di Pusat?



Oleh : Muhammad Aris, SH*


KOMITMEN Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengusulkan penundaan pelantikan tiga anggota DPR RI terpilih periode 2014 – 2019 berstatus tersangka karena masalah hukum patut didukung. Namun muncul pertanyaan, bagaimana pula anggota dewan di sejumlah daerah di Indonesia dengan status yang sama tetap dilantik dan diambil sumpahnya menjadi anggota DPRD periode 2014 - 2019.
Untuk diketahui, tiga anggota DPR RI terpilih yang menyandang status tersangka korupsi adalah Jero Wacik, Idham Samawi dan Herdian Koosnadi. Jero yang terpilih sebagai anggota DPR RI dari Partai Demokrat.

Sedangkan Idham dan Herdian terpilih sebagai anggota DPR RI dari PDIP. Idham yang juga mantan Bupati Bantul, Yogyakarta menjadi tersangka kasus dugaaan korupsi dana bantuan untuk klub sepakbola Persiba. Sedangkan Herdian terseret kasus dugaan korupsi proyek puskesmas di Tangerang Selatan. Kini, kasus dugaan korupsi yang menjerat Idham dan Herdian ditangani kejaksaan.
Sikap KPK tersebut dinilai dilematis. Kenapa hanya DPR RI saja yang disorot?, sementara DPRD dibiarkan saja. Saat ini sejumlah anggota DPRD terpilih menyandang kasus yang sama dengan ketiga anggota DPR RI, tapi mereka sudah dilantik dan diambil sumpahnya. Apakah penerapan hukum KPK hanya berlaku di pusat, di daerah tidak?. Kalau ini dibiarkan, maka terjadi ketimpangan penerapan hukum,  dan menimbulkan rasa ketidakadilan antara anggota DPR RI dan DPRD. Walaupun mereka berstatus tersangka, tapi proses hukumnya masih panjang dan masih menunggu kekuatan hukum tetap, jadi untuk apa kita menerapkan asas hukum praduga tidak bersalah.
Sikap KPK tersebut membuat penulis penasaran,?.  Niat baik KPK untuk ‘merecal’ oknum-oknum anggota DPR RI terpilih karena diduga tersangkut kasus hukum patut diapresiasi, namun menurut penulis handing kurang tepat, semestinya usulan KPK itu jauh-jauh disampaikan sebelum pelantikan anggota DPR RI dan anggota DPRD di seluruh Indonesia. Sehingga usulan penundaan pelantikan itu juga bisa diterapkan secara menyeluruh di daerah.
Dari sisi persyaratan bakal calon anggota DPR, DPRD provinsi, dan DPRD kabupaten/kota,  terhadap calon anggota DPR RI periode 2014-2019 yang akan dilantik 1 Oktober 2014 dan anggota DPRD yang sudah dilantik yang baru-baru ini yang telah ditetapkan statusnya sebagai tersangka karena masalah hukum tidak serta merta langsung digugurkan atau ditunda pelantikan. Karena kalau melihat salah satu persyaratan calon anggota DPR, DPRD provinsi, dan DPRD kabupaten/kota  saat mendaftar diri sebagaimana diatur pada pasal  51 ayat 1 huruf g UU No. 8  tahun 2012 berbunyi : ”Tidak pernah dijatuhi pidana penjara berdasarkan putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap karena melakukan tindak pidana yang diancam dengan pidana penjara 5 (lima) tahun atau lebih,”. Akibatnya, sejumlah oknum anggota DPRD terpilih yang menyandang status tersangka tetap dilantik dan diambil sumpahnya, karena pihak-pihak terkait termasuk penyelenggara pemilu dan sekretariat DPRD di daerah dinilai berpegang pada pasal  51 ayat 1 huruf g UU No. 8  tahun 2012.

Penulis menilai, kalau KPK meminta agar tiga anggota DPR RI terpilih bersatus tersangka ditunda pelantikannya sampai mereka mempunya kekuatan hukum tetap, semestinya hal serupa juga diberlakukan di daerah (DPRD), karena anggota DPRD didaerah juga pada saat pelantikan diambil sumpahnya. Terhadap proses hukum kita tetap mengedepankan supresmasi hukum buka supremasi etika, padahal anggota DPRD RI terpilih dan baru akan dilantik itu kan baru berstatus tersangka belum tentu dalam perjalanan proses hukumnya terbukti. Meskipun selama ini proses hukum yang ditangani KPK belum pernah ada pelaku tindak pidana korupsi yang ditetapkan sebagai tersangka dinyatakan bebas. perlu diketahui, tidak semua ketiga anggota DPR RI itu bermasalah itu kasusya ditangani KPK.

Bila kita hubungkan dengan proses penundaan pelantikan akan tetap terkait dengan proses pergantian calon terpilih calon anggota DPR, DPRD provinsi, dan DPRD aturan tetap berpegang pada pasal 220 UU No. 08 tahun 2012 tentang pemilu anggota DPR, DPD dan DPRD.

Pada pasal 220 UU No. 08 tahun 2012 berbunyi :
(1) Penggantian calon terpilih anggota DPR, DPD, DPRD provinsi, dan DPRD kabupaten/kota dilakukan apabila calon terpilih yang bersangkutan:
a. meninggal dunia;
b. mengundurkan diri;
c. tidak lagi memenuhi syarat menjadi anggota DPR, DPD, DPRD provinsi, atau DPRD kabupaten/kota; atau
d. terbukti melakukan tindak pidana Pemilu berupa politik uang atau pemalsuan dokumen berdasarkan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap.
(2) Dalam hal calon terpilih anggota DPR, DPD, DPRD provinsi, dan DPRD kabupaten/kota sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a, huruf b, huruf c, atau huruf d telah ditetapkan dengan keputusan KPU, KPU Provinsi atau KPU Kabupaten/Kota, keputusan penetapan yang bersangkutan batal demi hukum.
(3) Calon terpilih anggota DPR, DPRD provinsi, dan DPRD kabupaten/kota sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diganti oleh KPU, KPU Provinsi, dan KPU Kabupaten/Kota dengan calon dari daftar calon tetap Partai Politik Peserta Pemilu yang sama di daerah pemilihan tersebut berdasarkan urutan suara terbanyak berikutnya.
(4) Calon terpilih anggota DPD sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diganti dengan calon yang memperoleh suara terbanyak berikutnya.
(5) KPU, KPU Provinsi, atau KPU Kabupaten/Kota menetapkan calon anggota DPR, DPD, DPRD provinsi, dan DPRD kabupaten/kota sebagai calon terpilih pengganti sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dengan keputusan KPU, KPU Provinsi, atau KPU Kabupaten/Kota paling lambat 14 (empat belas) hari setelah calon terpilih berhalangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1).

Sementara di satu sisi, Penyelenggara pemilu yang berpedoman pada UU No. 08 tahun 2012 dan Peraturan KPU No. 09 tahun 2013, juga harus bisa menerapkan aturan yang sama antara DPR RI dan DPRD.

Terhadap anggota DPR dan DPRD provinsi, DPRD kabupaten/kota yang dinilai bermasalah, pengaturan tersendiri sebagaimana ditegaskan oleh UU No. 27 tahun 2009 sebagaimana telah diubah menjadi UU No. 17 tahun 2014 tentang MPR,  DPR, DPD, dan DPRD.

Masalah larangan KKN (kolusi, korupsi dan nepotisme) terhadap anggota dewan memang sudah ditegaskan pada pasal pasal 350 ayat 3,  236 ayat 3, pasal 400 ayat 3 UU No. 17 tahun 2014 tentang MPR,  DPR, DPD, dan DPRD berbunyi : “Anggota DPR, DPRD provinsi, anggota DPRD kabupaten/kota dilarang melakukan korupsi, kolusi, dan nepotisme,”.

Hanya saja, anggota dewan yang dinila melanggar pasal 350 ayat 3,  236 ayat 3, pasal 400 ayat 3 tersebut harus diberhentikan berdasarkan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap dikenai sanksi pemberhentian sebagai anggota DPR/DPRD, sebagaimana diatur pada pasal 237 ayat 3, pasal 351 ayat 3 dan pasal 401 ayat 3 UU No. 17 tahun 2014. Pemberhentikan anggota dewan yang tersangkut masalah KKN diperkuat pada pasal 241 ayat 1 UU No. 17 tahun 2014 berbunyi : “Dalam hal anggota partai politik diberhentikan oleh partai politiknya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 239 ayat (2) huruf d dan yang bersangkutan mengajukan keberatan melalui pengadilan, pemberhentiannya sah setelah adanya putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap”
Dalam pasal 244 UU No. 17 tahun 2014, selain diberhentikan tetap, anggota DPR RI bisa diberhentikan sementara apabila :
 (1) Anggota DPR diberhentikan sementara karena:
a. menjadi terdakwa dalam perkara tindak pidana umum yang diancam dengan pidana penjara paling singkat 5 (lima) tahun; atau
b. menjadi terdakwa dalam perkara tindak pidana khusus.
(2) Dalam hal anggota DPR dinyatakan terbukti bersalah karena melakukan tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a atau huruf b berdasarkan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap, anggota DPR yang bersangkutan diberhentikan sebagai anggota DPR.
(3) Dalam hal anggota DPR dinyatakan tidak terbukti melakukan tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a atau huruf b berdasarkan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap, anggota DPR yang bersangkutan diaktifkan.
(4) Anggota DPR yang diberhentikan sementara, tetap mendapatkan hak keuangan tertentu
Begitupun pemberlakukan terhadap anggota DPRD provinsi dan DPRD kabupaten/kota sebagaimana telah diatur pada pasal 362 dan pasal 412  UU No. 17 tahun 2014.

Mengacu kepada UU No. 17 tahun 2014, proses pemberhentian tetap dan pemberhentian sementara anggota DPR dan DPRD sudah diatur secara tegas, ` seorang anggota dewan saja yang baru ditetapkan terdakwa dalam kasus pidana umum atau khusus baru diberhentikan sementara, sampai kasus hukumnya memperoleh kekuatan hukum tetap. Apabila terjadi perselisihan antara anggota partai politik dengan institusinya, maka bisa diselesaikan melalui mahkamah partai politik atau sebutan lainnya oleh partai politik bersangkutan sebagaimana diatur dalam UU No. 2 tahun 2008 yang telah ubah menjadi UU No. 2 tahun 2011 tentang partai politik.

Dengan demikian, usulan penundaan pelantikan tiga anggota DPR RI tersebut oleh KPK merupakan salah satu terobosan hukum, namun terobosan hukum tersebut perlu ada payung hukumnya, sehingga akan menjadi acuan terhadap kasus-kasus sama kedepannya. Sehingga pemberlakukan di pusat dan di daerah sama. Khususnya penyelenggara pemilu dan pemerintah daerah tidak lagi merasa ‘bingung’ dalam menerapkan kasus yang akan dihadapi seperti kasus DPR RI tersebut diatas.

Diakhir kalimat ini, penulis hanya menyarankan kepada pihak KPK dan KPU agar tetap menerapkan aturan hukum ketat selagi aturan itu ada dan berlaku. KPK sebagai panglima terdepan dalam pemberantasan korupsi itu tetap masih menjadi tumpuan utama masyarakat untuk memberantas tindak pidana korupsi di Indonesia. I ♥ KPK dan I ♥ KPU. (*penulis adalah alumni Fakultas Hukum Universitas Jambi (Unja) dan mantan anggota KPU Batang Hari 2008 – 2013)